Selasa, 27 Juli 2010

12 Langkah


12 Langkah muhammadiyah tahun 1938 – 1940

Muhammadiyah dengan sungguh-sungguh melangsungkan langkahnya yang lebih luas dan menetapkan jejaknya yang kokoh, dalam tahun 1938-1940, maka :

1. Memperdalam masuknya Iman


Hendaklah Iman itu ditablighkan, disiarkan selebar-lebarnya, yakni diberi riwayat dan diberi dalil buktinya, dipengaruhkan dan digembirakan, sampai iman itu medarah daging, masuk ditulang sumsum dan mendalam dan mendalam dihati sanubari kita, sekutu-sekutu Muhammadiyah seumumnya.


2. Memperluas Faham Agama


Hendaklah faham agama yang sesungguhnya itu dibentangkan dengan arti yang seluas-luasnya, boleh diujikan dan diperbandingkan, sehingga kita sekutu-sekutu Muhammadiyah mengerti perluasan Agama Islam, itulah yang paling benar, ringan, dan berguna, maka mendahulukanlah pekerjaan keagamaan itu.


3. Memperbuahkan Budi Pekerti


Hendaklah diterangkan dengan jelas tentang akhlaq yang terpuji dan akhlq yang tercela serta diperbahaskannya tentang memakainya akhlaq yang mahmudah dan menjauhkannya akhlaq yang madzmumah itu, sehinga menjadi amalan kita, ya seorang sekutu Muhammadiyah, kita berbudi pekerti yang baik lagi berjasa.


4. Menuntun Amal Intiqad


Hendaklah senantiasa melakukan perbaikan diri kita sendiri (self corrective), segala usaha dan pekerjaan kita, kecuali diperbesarkan, supaya diperbaikilah juga. Buah penyelidikan perbaikan itu dimusyarawahkan ditempat yang tentu, dengan dasar mendatangkan maslahat dan menjauhkan mudharat, sedang yang kedua ini didahulukan dari yang pertama.


5. Menguatkan Persatuan


Hendaklah menjadi tujuan kita juga, akan menguatkan persatuan organisasi da mengokohkan pergaulan persaudaraan kita serta mempersamakan hak-hak dan memerdekakan lahirnya pikiran-pikiran kita.


6. Menegakkan Keadilan


Hendaklah keadilan itu dijalankan semestinya, walaupun akan mengenai badan sendiri dan ketetapan yang sudah seadil-adilnya itu dibela dan dipertahankan di mana juga.


7. Melakukan kebijaksanaan


Dalam gerak kita tidaklah melupakan hikmah, hikmah mana hendaklah disendikan kepada kitabullah dan sunnaturrasulillah. Kebijaksanaan yang menyalahi kedua pegangan kita itu, mestilah kita buang, karena itu bukan kebijaksanaan yang sesungguhnya.

Dalam pada itu, dengan tidak mengurangi segala gerakan ke-Muhammadiyahan, maka pada tahun 1938 – 1940 H.B. Muhammadiyah mengemukakan pekerjaan akan :


8. Menguatkan Majelis Tanwir


Sebab majelis ini nyata-nyata berpengaruh besar dalam kalangan kita muhammadiyah dan sudah menjadi tangan knan yang bertenaga di sisi Hoofdbestuur(PP) Muhammadiyah, maka sewajibnyalah kita perteguhkan dengan diatur yang sebaik-baiknya.


9. Mengadakan Konferensi Bagian


Untuk mengadakan garis yang tentu dalam langkah-langkah bagian kita, maka hendaklah kita berikhtiar menagadakan “konferensi Bagian”, misalnya : konferensi bagian penyiaran agama seluruh Indonesia dan lain sebagainya.


10. Mempermusyarawahkan Putusan


Agar dapat keringanan dan kemudahan dalam pekerjaan, maka hendaklah setiap keputusan yang mengenai kepala majelis ( bagian ), hendaklah dimusyawarahkan dengan yang bersangkutan itu lebih dahulu, sehingga dapatlah mentanfidzkan dengan cara menghasilkan dengan segera.


11. Mengawaskan gerakan jalan


Pemandangan kita hendaklah kita tajamkan akan mengawasi gerak kita yang ada di dalam Muhammadiyah, yang sudah lalu, yang masih langsung dan yang bertambah (yang akan dating/berkembang).


12. Mempersambungkan Gerakan Luar


Kita berdaya-upaya akan menghubungkan diri kepada luaran (ekstern), lain-lain persyarikatan dan pergerakan di Indonesia, dengan dasar silaturrahim, tolong-menolong dalam segala kebaikan, yang tidak mengubah asasnya masing-masing, terutama perhubungan kepada persyarikatan dan pemimpin Islam.




©KutuJenggot.IMM.StmiK_dP.Mks

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar